Selasa, 15 September 2009

Kontrol Gula Darah, Hindari Impotensi!

Menurut data dari sebuah perusahaan obat, 58% pria penderita diabetes di Amerika mengalami gangguan ereksi. Data lain menyebutkan, pria penderita diabetes akan mengalami gangguan ereksi 10 sampai 15 tahun lebih cepat dibanding pria tanpa diabetes. Ada juga yang mengatakan bahwa pria dengan diabetes memiliki resiko 2 sampai 5 kali lipat untuk terkena disfungsi ereksi.

Di Indonesia jumlah penderita DM terus meningkat dari tahun ke tahun hingga diperkirakan mencapai tujuh juta pasien pada tahun 2020 atau 1,5 persen sampai dua persen dari masyarakat. Masyarakat di kota besar kemungkinan terkena DM lebih besar daripada di pedesaan. Ini akibat gaya hidup modern seperti kurang gerak atau berolahraga, banyak mengonsumsi makanan berkolestrol dan berkadar lemak tinggi.

Apa Yang Terjadi?

Kita mulai dengan apa yang disebut Impotensi atau disfungsi ereksi itu. Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan untuk memperoleh ataupun mempertahankan ereksi dalam waktu relatif lama untuk mendapatkan kenikmatan saat berhubungan seks. Jadi bukan hanya sebatas ketidakmampuan ereksi sama sekali saja tetapi waktu ereksi yang kurang untuk mencapai kepuasan kedua belah pihak.

Masalah disfungsi ereksi bukanlah masalah yang sederhana karena menyangkut berbagai aspek yang luas dari faktor biologik tubuh pria tersebut, faktor psikolgis (jiwaan), faktor pasangan, faktor lingkungan sekitar bahkan sampai faktor sosial budaya.

Ereksi dapat dibagi dalam beberapa fase: fase permulaan dalam keadaan masih lemas (flasid), fase pengisian darah, fase tumesensi (pembesaran), lalu fase ereksi (tegak), dan sampai pada fase rigid (tegak dan keras). Sesudah itu terjadi lagi fase detumensensi (pelemasan kembali).

Proses yang terjadi pada ereksi diawali dengan rangsangan visual, pendengaran, sentuhan dan sebagainya yang kemudian merangsang saraf pada sumsum tulang belakang (saraf otonom). Lalu saraf ini merangsang pembuluh-pembuluh darah arteri penis serta korpus kavernosum penis untuk melebar. Sedangkan saraf merangsang pembuluh-pembuluh darah balik (vena) untuk mengecil sehingga darah terperangkap di dalam penis.

Pada Diabetes

Pada penderita diabetes akan ditemukan fungsi sel dinding pembuluh darah (sel endotel) yang tidak normal. Terjadi penurunan produksi NO (nitric oxide) oleh sel endotel. NO ini berguna untuk menghambat agregasi trombosit dan menghambat adhesi pada dinding pembuluh darah. Karena NO yang dihasilkan rendah maka plak atau kerak dapat mudah timbul.

Penyakit kardiovaskuler dapat terjadi pada penderita diabetes maupun non-penderita, hanya pada penderita diabetes memiliki faktor resiko yang lebih tinggi untuk terkena. Contoh penyakit kardiovaskular yang sering timbul seperti, arterosklerosis, darah tinggi, infark miokard, gagal jantung dan sebagainya.

Diabetes pun biasa diikuti dengan perubahan profil lipid dalam darah (dislipidemia). Bentuk dislipidemia yang timbul seperti peningkatan kadar VLDL, penurunanan HDL, peningkatan LDL, serta peningkatan trigliserida akan juga mempermudah terjadinya plak.

Ketiga hal di atas dapat terjadi baik pada pembuluh darah kecil maupun besar. Jika terjadi pada pembuluh darah besar disebut makroangiopati. Pembuluh darah besar yang terkena bisa diseluruh tubuh yang salah satunya adalah pembuluh darah penis dan korpus kavernosum penis. Jika terjadi pada penis maka akan terjadi hambatan aliran penis. Aliran darah penis yang tidak maksimal, menghasilkan ereksi yang tidak maksimal juga.

Selanjutnya jika terjadi pada pembuluh darah kecil dinamakan mikroangiopati. Tentunya yang akan kena imbasnya adalah organ-organ yang diperdarahinya. Biasanya organ yang diperdarahi bersifat end-arteri dan sensitive terhadap keadaan kurang darah jadi mudah terjadi kerusakan pada oran tersebut. Organ-organ yang biasanya terkena adalah mata (retinopati), ginjal (nefropati), serta saraf (neuropati).

Pada sistem saraf otonom, pembuluh darah sering terkena mikroangiopati adalah pembuluh darah yang memperdarahi pleksus serabut otonom terutama pleksus vesikalis. Pleksus vesikalis ini mensarafi fungsi ereksi penis melalui persarafan simpatik oleh nervus hipogastrik (T10-L2) dan persarafan parasimpatiknya oleh nervus pelvicum (S2-S4).

Jika sistem saraf otonom untuk ereksi penis mengalami gangguan, tentunya impuls seksual dari tingkat yang lebih tinggi (otak) tidak dapat diteruskan secara sempurna kepada penis untuk mengadakan ereksi, maka ereksi pun akan terhambat.

Gangguan pembuluh darah dan saraf pada penderita diabetes akan menimbulkan disfungsi ereksi.

Cegah Sedini Mungkin

Pencegahan adalah lebih baik dari pada pengobatan. Tentunya yang pertama Anda lakukan adalah kendalikan kadar gula Anda. Aturlah pola diet Anda dengan makanan yang rendah kalori dengan disertai olah raga yang teratur. Pengendalian kadar gula Anda mungkin dapat dibantu dengan obat-obat yang sebelumnya telah dikonsultasikan pada dokter Anda. Kemudian memiliki pola hidup yang sehat dengan tidak merokok, tidak minum alkohol, dan menjaga supaya tekanan darah tetap normal.

Mungkin Anda perlu memperbanyak menkonsumsi buah asal New Zealand ini. Penelitian terbaru menyebutkan manfaat buah kiwi dalam pencegahan disfungsi ereksi. Di dalam kiwi terkandung asam amino arginin dan glutamate. Arginin bersifat vasodilator (melebarkan pembuluh darah) yang memperlancar aliran darah ke dalam penis.serta terbukti mampu mengobati gejala impotensi ringan. Selain itu, kiwi juga mengandung mineral esensisal seperti kalium, kalsium, magnesium, seng, tembaga, mangan dan fosfor. Kalium berfungsi menjaga fungsi gerak reflek sistem saraf dan menjaga fungsi otot.

Penelitian terbaru mengatakan bila Anda penderita diabetes terutama tipe insulin-dependence disarankan untuk memeriksa gula darah sebelum dan sesudah melakukan hubungan seks. Tindakan ini dimaksudkan untuk mencegah turunnya kadar gula darah selama melakukan hubungan seks yang banyak memakan energi. Selain itu, penderita juga disarankan untuk makan sebelum dan sesudah hubungan seks dengan motif yang sama.

Jika hal itu terjadi

Namun, bila disfungsi ini datang menghampiri Anda, bersikaplah terbuka dengan pasangan Anda. Mintalah pengertian dari pasangan Anda untuk mengerti dan tidak menuntut terlalu banyak karena faktor psikologis memiliki perananan yang sangat besar dalam penyembuhan disfungsi ereksi.

Selanjutnya, hubungi ahli kesehatan Anda, berbicara secara terbuka dengan dokter agar menemukan akar masalah sebelum melaksanakan tindakan pengobatan. Jika yang mendasarinya faktor psikologis, dokter Anda dapat merujuk Anda ke psikiater atau ahli lain di bidangnya untuk terapi lebih lanjut.

Banyak pilihan pengobatan untuk mengatasi disfungsi ereksi. Pada tahap awal, biasanya dokter akan memulai dengan obat minum yang mudah, efektif serta efek samping dapat ditoleransi dengan baik, seperti pemberian sildenafil (Viagra®), tadalafil (Cialis®), dan vardenafil (Levitra®).

Pilihan pengobatan yang lainnya dengan terapi hormonal atau meninjeksikan obat langsung ke penis. Penggunakan alat vakum yang membuat akumulasi darah dalam penis juga dapat menjadi alternatif pengobatan. Atau dengan tindakan invasive seperti operasi atau pemasangan protese (penis buatan) pada penis.

Jadi, jika Anda telah didiagnosis oleh dokter Anda sebagai penderita diabetes, lakukanlah segera tindakan-tindakan pencegahan sehingga disfungsi ereksi ini tidak menghampiri Anda dalam waktu dini. (PanduDiputra)

Referensi
Brownlee, Michael, et al. Complications of Diabetes Mellitus. Williams Text Book of Endocrinology 10th Ed. Elsevier. 2003.
Cunningham, Glenn R. Erectile Dysfunction. Principles dan Practice of Endocrinology and Metabolism. Lippincott Williams & Wilkins Publishers. 2002.
Mardjono, Mahar, et al. Gangguan Susunan Saraf pada Diabetes Miletus. Neurologi Klinis Dasar. 2004.
McVary, Kevin T. Sexual Dysfunction. Harrison’s Principles of Internal Medicine 16th Ed. McGraw-Hill. 2005.
Powers, Alvin C. Diabetes Mellitus. Harrison’s Principles of Internal Medicine 16th Ed. McGraw-Hill. 2005.
“Cegah Impotensi Dengan Si Seksi Kiwi” www.blogger.com
“Diabetes Mempengaruhi Kehidupan Seks” www.keluargasehat.com
“Disfungsi Ereksi” www.wikipedia.org
“Dulu Impotensi Kini Disfungsi Ereksi” www.kompas.com
“How Does Diabetes Affect Erection Quality?” www.levitra.com
“Impotensi (Disfungsi Ereksi)” www.decock.wordpress.com
“IMPOTENSI, Bagaimana Bisa Terjadi?” www.bkkbn.go.id
“Pria, Waspadai Kesehatan Reproduksi Anda” www.gizi.net
“What Is Erection Quality?” www.levitra.com

Sumber :
http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/06/kontrol-gula-darah-hindari-impotensi
17 September 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar